Berlindung dibalik keindahan Tidung

Tidung adalah satu pulau di jajaran Kepulauan Seribu. Keistimewaannya adalah : walaupun lokasinya di Pantai Utara (Jawa), namun pantai di kawasan Pulau Seribu ini berpasir putih.

Perjalanan ke Tidung dalam rangka perpisahan ama temen-temen training gue di kantor. Setelah 4 bulan bersama dan ketemu setiap hari akhirnya harus dipisahkan juga oleh penempatan.

Gue bersama 4 begundal sudah menyewa tour selama perjalanan Ke Tidung, lazimnya memang orang yang maen ke Tidung itu akan menyewa tour agent, yang akan mengurusi transportasi, makan, dan penginapan dan akomodasi lain selama di Tidung.

Biaya selama 2 hari 1 malam berkisar antara Rp. 250.000 – Rp. 350.000 / orang, tergantung fasilitas dan tour agentnya.

Perjalanan kami dari Muara Angke yang penuh dengan bau ikan asin dan jalanan yang becek berlumpur, dari Muara Angke akan naik kapal selama ±3,5-4 jam. Kapal berangkat pukul 6:00, tadinya gue pikir kami bakal dapat kapal ferry yang lumayan nyaman, ternyata salah. Gue ga ngerti jenis kapal apa yang gue naikin, yang jelas kapal kecil itu berjubel penuh penumpang baik yang ingin liburan maupun penduduk setempat yang biasanya berbelanja ke Jakarta.

Kalau melihat ini, yakilah bahwa gue bukan pesakitan yang siap dilempar ke laut.

Rata-rata penumpang akan naik di atas dek kapal, selain biar tidak berdesakan dengan ikan asin yang diletakkan di dalam lambung kapal, juga jaga-jaga apabila terjadi sesuatu hingga kapal tenggelam gampang lompatnya (ketok-ketok lantai). Pejalanan minimal 3,5 jam di atas laut memang ga senyaman apabila menggunakan jalur darat. Siap mabok laut, dan ga jarang pula saat ombak besar mesin kapal dimatikan (yang mana kalo belum terbiasa naik kapal seperti ini sangat menyeramkan).

Dari tempat parkir kapal / tempat turun pertama kali saja sudah terasa indahnya.

Waktu masih di tengah-tengah laut dan kami tidak melihat ada kapal lain / pulau / bahkan burung Camar, tiba-tiba langit mendung. Tentu saja hal yang gue takutkan saat itu adalah kena badai di tengah laut. Bayangkan kena badai di darat aja udah serem, ini di tengah laut ditambah kapal yang kecil dan pelampung tipis yang hanya berjumlah 5 biji. Nmaun untungnya hanya hujan dan sedikit angin saja yang datang, langsung gue lanjutkan tidur setelah hujan sedikit berhenti. Ga seberapa lama, gue tidur, tiba-tiba terdengar suara dari awak kapal “HOII!! KAPAL MIRING KE KANAN, SEMUANYA PINDA DUDUK KE SEBELAH KIRI!!” dengan jantung berasa mau copot akhirnya gue kebangun dan geser tempat duduk, dan memang benar kalau kapal miring ke kiri karena ombak besar dan kapal tidak seimbang beratnya. Mendekati Pulau Tidung cuaca berangsur cerah dan air juga tenang.

seorang pemuda gombal berkata : Sayang, apabila kamu langit maka aku lautnya… biru kita menyatu | menyatu apanya Bang?! langit ama laut kan jauh!! #kemudianPutus

Sesampainya di Dermaga Tidung, kami langsung disambut sama tour guide kami, diantarkan ke rumah yang kami sewa sambil membicarakan jadwal akan kemana saja nanti selama di Tidung.

Karena gue dan rombongan cuma menginap semalam, maka jadwal memang agak ketat, seketat celana Jins Vidi Aldiano. Begitu sampai di rumah mungil dengan fasilitas dua kamar, tv, ac, kamar mandi, dan bed nyaman di ruang tamu, kami langsung disambut oleh makanan yang disediakan si Empunya rumah, ikan (gue ga tau jenis ikannya, yang jelas enak karena ikan air laut) dengan sambal dan lalapan, pas buat mengisi perut kami yang sudah kelaparan sejak subuh. Tour guide mengatakan akan mengajak kami untuk snorkling pada pukul dua siang, sementara itu kami bebas beristirahat.

Karena sudah terkenal sebagai tempat wisata, penduduk Tidung ini cukup ramah dan tahu bahwa pengunung Pulau ini merupakan salah satu mata pencaharian mereka.

Pukul 2 siang, tour guide kami datang, kami diminta bersiap untuk segera ke kapal yang akan mengangkut kami ke tempat snorkling. Di rumah yang kami sewa juga sudah disediakan sepeda sebagai alat transportasi kemana-mana, pulau Tidung tidak terlalu besar, jadi sekalian olahraga gitu, pas mau jalan kami diributin salah seorang temen cowok (Sebut saja Koko) yang GA BISA NAIK SEPEDA DAN MINTA DIBONCENG. Kalo ada yang ga bisa naik motor gue masih maklum, namun kalau ga bisa naik sepeda kayaknya kebangetan, cowok pula, mana badannya gede trus siapa yang mau ngebonceng? Akhirnya tugas membonceng diputuskan dengan suit, yang kalah boncengin si Koko dengan badannya yang memel itu.

Kapal yang digunakan kapal nelayan kecil, cukup untuk 4-5 orang

Berbekal peralatan snorkling yang sudah disediakan oleh guide dari penginapan, kami dibawa dengan perahu motor kecil ke tengah laut, tempat dimana terumbu karang banyak berkumpul. Setelah dapat beberapa pengarahan dari tour guide kami pun segera masuk ke air buat lihat terumbu karang sekaligus memberi makan ikan. Hati-hati saat berenang di tempat yang banyak karang, kaki gue lecet-lecet karena (entah kenapa bisa) nabrak karang. Sayang sekali waktu itu ga ada yang bawa under water camera, adanya cuma under wear basah.

Kalo lihat ini gue malah berpikir kalo kami ini seperti korban bencana Titanic.

Setelah puas bermain-main dalam air dan hari juga sudah sore, kami pun segera kembali ke Pemukiman. Sore kami sempat mampir ke Jembatan cinta (katanya banyak yang jadian disini), ambil beberapa foto buat narsis. Di jembatan cinta tersebut juga digunakan sebagai ajang lompat indah oleh para amatir, biasanya orang-orang beradu keberanian dengan melompat dari atas jembatan itu. Gue ga tertarik, selain karena ga yakin bisa mengatasi panik saat melompat, gue ga lihat ada mas-mas penjaga pantai ganteng seperti dalam film baywatch (iye gue produk jadul).

Tolong fokusnya ke jembatan dan lautnya saja… jangan ke perut modelnya.

Sendirian aja neng?

Sorenya kami kembali ke penginapan naik sepeda, karena sudah maghrib. Pas perjalanan pulang gue sempet nyasar, temen-temen gue menghilang dan karena jarak dari pantai ke penginepan cukup deket gue santai aja menuju penginepan, sialnya setelah beberapa kali muter-muter ga jelas, gue baru nyadar kalau gue 100% nyasar, dan entah kenapa jalan apapun yang gue pilih, mentoknya ke daerah kuburan juga. Karena udah merinding dan putus asa, gue nanya-nanya ke penduduk yang jual rujak, waktu ditanya penginepan gue namanya apa dan di jalan apa gue panik. “njrit! gue ga tau rumah yang gue sewa di jalan apa dan siapa nama pemiliknya”

Akhirnya setelah mengingat beberapa tempat yang gue lewati, gue diantar sama si mbak penjual rujak buat cari rumah. Huhuhuu mbaknya baik banget, semoga bahagia selalu ya mbak.. Begitu sampai di belokan gang penginapan gue, gue ketemu temen-temen gue yang juga panik cariin sejak sejam yang lalu.

Malamnya kami makan malam ikan bakar di tepi pantai, sambil dihibur karaoke dangdut oleh si pemilik tempat makan, puas makan ikan kami kembali ke peninapan dan tidur nyenyak, karena paginya kami akan memburu sunrise di Tidung.

Karena iseng bisa muncul kapan saja, termasuk di Tidung

Paginya kami bersepeda kembali ke dermaga cinta dan berjalan menuju pulau di seberang Tidung, lokasinya asik buat berfoto ria, selebihnya menyenangkan buat pacaran (kalau bawa pacar). Puas foto-foto hingga siang kami kembali ke penginapan dan beberes pulang.

Saat perjalanan pulang, ternyata ombak lebih besar, kalau pas berangkat gue bisa tidur di perjalanan, pas baliknya gue sibuk berdoa. Berdoa biar kapal yang gue tumpangi ga terbalik diserang ombak besar, terlebih karena temen gue ada yang mimpi tenggelam malam harinya. Ternyaya akhir-akhir gue baru tau, kalau ombak pas balik dari Tidung ke Jakarta memang lebih besar dari sat berangkatnya. Untung gue slamet, bukan Eva *loh*.

Begitulah perjalanan Tidung, foto-foto selama disana gue posting di bawah yee..

Berjemur ala orang Indonesia : masih pakai baju lengkap