Praya Lombok, si “Gadis malu-malu”

Kedatangan saya di Bandara Praya, Lombok Tengah disambut gerimis pada malam hari. Bandara yang mulai beroperasi sejak tahun 2011 ini tidak terlalu besar, namun cukup untuk sebuah penerbangan internasional.
Keluar dari pintu kedatangan, saya langsung dikerumuni oleh para calo tiket dan orang-orang yang menawarkan paket tour selama di Lombok, sembari menunggu jemputan dari Hotel, saya iseng-iseng bertanya tarif untuk antar jemput selama perjalanan hingga akhirnya mencatat nomor telp salah satu pengemudi untuk nanti apabila saya butuh transportasi.
Berselang beberapa menit penjemput dari hotel datang, dengan sedikit geli saya memerhatikan si Bapak penjemput yang datang menjemput tamu hanya berpakaian sarung dan jaket. Setelah beberapa langkah menuju tempat parkir mobil, saya kemudian mengerti, bahwa sarung di kota ini merupakan pakaian casual mereka. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya orang yang berlalu lalang di bandara hanya dengan memakai sarung dan kaos.
Saya menginap di Hotel Grand Royal Praya, satu-satunya hotel terdekat dari bandara, hanya berjarak kurang lebih 3km dengan waktu tempuh sekitar 7-10 menit perjalanan menggunakan mobil.
Kota Praya pada pukul 10.30 malam waktu setempat sudah seperti kota mati, hampir tak ada kendaraan berlalu lalang maupun toko atau tempat hiburan yang buka, mungkin karena tempat ini baru mulai “menggeliat” dalam hal pariwisata. Padahal kalau dilihat kotanya cukup cantik, hotel yang saya tempati juga cukup bagus dengan rate IDR509k per malam, kalau diibaratkan kota Praya ini seperti gadis desa cantik yang masih malu-malu untuk menunjukan pesonanya.
Sayapun kemudian beristirahat untuk kemudian bersiap menuju Gili pagi harinya.

Foto-foto silahkan di lihat pada galeri.

Advertisements