Catatan Pinggir Perjalanan Lombok-Gili

Selama perjalanan Lombok-Gili kemarin gue mendapat banyak cerita dan pengalaman.

Dimulai dari scam yang sudah gue posting sebelumnya di sini , tadinya guw kira kejadian menyebalkan semacam itu sudah berhenti, ternyata sekembalinya gue dari Gili menuju Kuta gue masih menemui beberapa kejadian menyebalkan lainnya.

Pertama, kapal sewaan pribadi yang dijanjikan kepada kami untuk Pulang-Pergi Bangsal -Gili Trawangan tidak pernah ada. Kapal yang guei tumpangi dari Gili Trawangan ke Pelabuhan Bangsal Lombok ternyata juga kapal publik sama seperti  saat berangkat *sigh*, untung di kapal banyak bule ganteng nan kekar yang bisa bikin hati adem (oke ini out of topic).

Sesampainya di Dermaga Bangsal, kami langsung diserbu oleh belasan orang dari mulai kuli panggul yang kadang ga pakai konfirmasi langsung angkat barang kita dan saat diturunkan mereka minta bayaran, sampai orang-orang yang berteriak menanyakan tiket perjalanan selanjutnya yang pada akhirnya gue sadari mereka adalah calo-calo tiket gelap sekaligus penipu yang suka mengambil tiket wisatawan untuk kemudian dijual kembali.

Pasti kalian bertanya “hah?! Bagaimana bisa? maksudnya apa?” gitu kan ya? ya KAN?! baiklah kalau kalian memaksa gue ceritain sekarang “digebuk*. Jadi semenjak wisatawan baik lokal maupun asing masih di atas kapal dan hendak mau turun, di sekitar kapal biasanya sudah ada orang-orang yang berkerumun menanyakan tiket, gue sendiri waktu ditanya oleh mereka gue perlihatkan tiket gw, dan untungnya saat itu tiket gue ga diambil sama itu orang-orang. Beberapa wisatawan yang tidak beruntung, setelah mereka menunjukkan tiket, maka tiket akan diminta oleh calo-calo penipu tersebut, dengan mengaku sebagai sopir bus / travel yang akan membawa wisatawan ke tujuan selanjutnya, mereka telah berhasil mengelabui wisatawan lugu nan polos dan kemudian kabur membawa tiket travel tersebut untuk kemudian dijual lagi kepada  wisatawan lain. Satu hal yang memungkinkan hal tersebut terjadi adalah tiket-tiket yang tidak diberi nama lengkap dan ID calon penumpangnya, ga heran tiket-tiket bodong tersebut gampang banget diperjual belikan.

Kedua, apabila belum pernah ke Gili via Bangsal sebelumnya, jangan mudah percaya apa yang dikatakan masyarakat lokal. Misalnya kami telah dibohongi karena “harus” naik cidomo (kereta kuda) dan membayar IDR 20-30k untuk perjalanan yang hanya berjarak sekitar 200-300 meter😦. kalau memang males jalan segitu, bawaan terlalu berat atau memang centil aja ya silahkan kalau tetap ingin  menggunakan jasa cidomo, tapi kalau ingin menghemat dan tidak menghamburkan uang ya sebaiknya bisa dengan tegas menolak orang-orang yang menawarkan cidomo. Mereka menawarkan cidomo dan kemudian mulai mengelabui wisatawan dengan cara-cara sebagai berikut :

  • Travel / Bus yang masuk ke Bangsal harus berhenti di terminal, sekitar 300 meter dari pelabuhan, dari terminal, kemudian si sopir travel kita akan bilang “silahkan menyewa cidomo untuk kemudian diantar ke pelabuhan” sopir tersebut akan menambahi dengan kata-kata seperti “pelabuhannya masih jauh” atau “nanti capek”. Setelah itu, gue diantar cidomo ke sebuah loket penjualan tiket yang ternyata hanyalah COUNTER AGEN TRAVEL yang telah menipu gue😦
  • Di agen travel abal-abal tersebut kami diberi tahu bahwa kapal yang menuju Gili Trawangan baru saja berangkat, dan gue beserta satu orang temen gue merupakan dua penumpang yang tersisa. sedangkan kapal selanjutnya akan berangkat saat sudah terdapat 30-40 orang lagi. Tips : kapal menuju Gili Trawangan berangkat setiap jam mulai pukul 8.00 pagi hingga 16.00 sore, jadi jangan takut kehabisan kapal publik.

 Nah, balik ke perjalanan dari Bangsal ke Kuta Lombok. Kami dengan selamat telah bertemu dengan sopir travel yang akan mengantar kami menuju Kuta Lombok, travel dengan mobil APV tersebut menaikkan enam penumpang, Gue, Temen gue, 2 cewek bule, 1 cowok bule dan 1 mbak-mbak wisatawan lokal dari Bandung.

Baru sekitar 45 menit perjalanan, sopir menghentikan mobil di depan sebuah kantor travel yang tutup. Kemudian dengan wajah bingung sopir menyampaikan ke tiga bule yang duduk di belakang kalau mereka harus turun disitu. Sopir bus mengatakan kalau dia hanya dititipi oleh temannya untuk mengantar 3 bule tersebut ke tour & travel tersebut, tiga bule menyanggah dan mengatakan kalau mereka sudah membayar full untuk dapat diantar sampai ke Kuta Lombok. Si sopir bilang kalau mereka tidak punya tiket, mereka tidak bisa diantar sampai ke Kuta, si bule bilang “gimana kita bisa punya tiket, orang tadi tiketnya aja diambil sama orang yang ngaku sopir kok” *dang*

Gue dan temen gue akhirnya berusaha membantu dan menengahi antara sopir dengan tiga bule tersebut, menelpon agen tour yang tidak aktif nomornya, menelpon kantor yang tidk diangkat karena tutup dan akhirnya pasrah. Sopir kami membawa kami ke tempat lain dan akhirnya mengatakan akan memberi solusi bagi tiga bule tersebut.

Yang terjadi solusi yang diberikan adalah : memaksa tiga bule tersebut untuk membeli tiket pulang pergi Kuta-Gili atau Kuta-Bali, salah satu bule cewek yang kemudian gue ketahui namanya Anja mengatakan (dengan translate) “gue ga perlu tiket PP gue cuma mau bayar dari sini ke Kuta” tapi sopir kami memaksa, akhirnya Anja dkk mengalah dan membeli kembali tiket seharga IDR 200K.

Belum berhenti sampai disitu, kami (gue, temen gue dan 3 bule) juga disuruh pindah mobil dengan alasan si sopir masih menunggu penumpang lain dan itu lama. Karena sudah marah, capek dan sudah diburu waktu kami menurut saja, dan yang terjadi selanjutnya kami dipindahkan ke mobil L300 tua tanpa AC dan dengan kursi sudah rusak dimana-mana *nangis*, namun karena tak punya pilihan lain kami pasrah saja dan tetap menikmati perjalanan dengan Angin Jendela.

Jadi ya teman-teman, semua itu ternyata sindikat, mulai dari sopir travel sampai ke kusir cidomo sudah bekerja sama untuk menipu. Sopir travel yang kami percayai pun akhirnya menipu kami dengan memindahkan kami ke mobil tua busuk hingga sampai ke Kuta. Si sopir juga gue yakin tau kalo tiga bule itu ga bawa tiket, makanya bisa sembarangan nurunin penumpang. Bayar 200 ribu hanya untuk naik mobil busuk itu menyedihkan sekali, rasanya sudah seperti ditipu pacar *yak lebay lagi*.

Ketiga, sewaktu di Kuta kami jadi akrab dengan tiga bule yang sama-sama jadi korban penipuan, nama mereka Anja, Heika dan Gary. Malam terakhir gue di Kuta, gue, Gary dan Anja mengobrol disebuah bar tradisional di tepi pantai. Dari ngobrol-ngobrol tersebut gue tau berbagai cerita yang mereka alami selama perjalanan Gili-Kuta.

Mereka bilang bahwa masyarakat sekitar sering bersikap tidak sopan dan tidak menghargai wisatawan, terutama wisatawan asing, diluar penipuan tiket, ternyata Anja juga mengalami pelecehan dimana saat berada di Gili, dia sedang bersantai di tepi pantai dan tiba-tiba ada orang lokal yang menggelitik dan mencubit pipinya, setelah ditolak dengan halus oleh Anja, orang lokal tersebut bukannya mundur malah dengan pedenya mencium Anja tepat di bibir! ugh.. kalo gw udah gw gamparin kali ya, tapi apa daya, kadang wisatawan juga takut kalo melawan orang lokal, sadar dia disana cuma cewek dan sendirian, akhirnya cuma ditolak secara halus.😦

Gary bule dari UK juga menceritakan hal yang sama, hampir semua orang penduduk lokal yang dia temui, menawarkan ganja, alkohol, drugs, mushroom dan lain-lain. Dan bukan hanya menawari, mereka bahkan sedikit memaksa. Padahal Gay sendiri sudah berhenti merokok dan tidak ingin mencoba hal-hal yang ditawarkan itu, “mereka pikir semua bule sama apa? doyan giting sama mabok gitu?” kira-kira gitu translate kata-kata Gary.

Anja kemudian cerita kalau ada temannya sesama traveler yang datang ke Gili, setelah 4 bulan Anja menghubungi temannya tersebut, dia pikir temannya sudah berkeliling Indonesia, ternyata tidak. Temannya itu masih tinggal di Gili dan kerjaanya setiap hari hanya giting, mabok, tidur setiap hari. Sayang sekali ya.. gue sendiri bebas aja kalo orang mau smoking weeds atau drunk, tapi kalau sampai kayak gitu kasian juga😦.

Paginya, gue mengantar Anja, Gary dan Heika untuk pindah ke Banana Guest house, sesampainya disana kami ketemu sama cewek bule yang sudah dua minggu di Kuta Lombok, dia kemudian cerita betapa masyarakat lokal sangat primitive serta tidak menghargai mereka, seperti memasang harga semaunya, pelayanan buruk, tidak menjawab arah yang tepat saat ditanya, memaksa apabila menjual sesuatu, dan banyaknya pungli di tempat wisatanya sendiri. Gue sedih dan prihatin, karena sebenarnya masyarakat Lombok itu cukup ramah, ya hanya saja ada beberapa sikap yang perlu diperbaiki kalau mereka ingin pariwisata disana maju.

Satu hal catatan gue, kesiapan dalam mengelola tempat wisata juga harus dibarengi dengan kesiapan masyarakatnya. Pendidikan yang cukup, pengetahuan yang memadai, jaga keamanan dan kenyamanan pengunjung. Gue tau bahwa kita tidak selamanya bisa menuruti keinginan orang lain, tai setidaknya penuhi kebutuhan dasarnya, terutama di tempat wisata seindah Lombok. Pemerintah sekitar harusnya bisa lebih sensitif dengan keamanan dan premanisme.

Demikian catatan pinggir yang lebih panjang dari main story-nya sendiri hahaha. Semoga dapat mencegah orang-orang untuk mengalami kejadian buruk serupa.