(Gagalnya) Karimun Trip – Patah Hati Pertama dalam Traveling

Oke, jadi akhir bulan Agustus 2013 ini saya punya free time sekitar satu minggu karena saya baru saja resign dari kantor lama dan baru masuk kantor baru awal bulan September.
Waktu selama jadi pengangguran itu pastinya saya manfaatkan buat jalan, karena harga dollar yang sedang melonjak berbarengan dengan letoy-nya rupiah, paling aman memang ngetrip dalam negri aja. Dan sebagai cah Semarang saya merasa malu belum pernah pergi ke Karimun Jawa, jadilah akhirnya gue memutuskan pergi ke Pulau yang sebenarnya hanya sekitar 6 jam perjalanan (3 jam darat dan 3 jam laut) dari Kota Semarang.

Perjalanan kali ini saya bareng sama temen ngetrip baru @IhsanWahyu, makhluk langka yang gue temukan di social media ini juga punya antusiasme yang sama buat mengunjungi Pulau di utara Jepara ini, dan jadilah perjalanan (drama) kami dimulai.
Drama pertama dimulai ketika travel-mate saya tidak juga kunjung di approve sama boss, akhirnya booked tiket ditunda sampe doi dapat kepastian. Setelah menanti sekian lama akhirnya cuti doi di approve PADA H-2! Setengah kelabakan kita cari tiket kereta buat ke Semarang dan ternyata sudah habis semua! Ada tiket kereta yang berangkat jam 5.45 sore, namun Ihsan baru landing di Soetta (dari Jambi) jam 7.30 malam. Akhirnya kami memutuskan buat berangkat sendiri-sendiri, saya ambil tiket jam 5.45 sore dan dia entah bagaimana yang penting sampai Semarang sebelum jam 4 pagi.
Untungnya di hari H keberangkatan gue dapat tiket kereta dari seorang calo (we know this is illegal but… Hey! We are trevelers rite?) :p
Drama kedua, si ibu calo insecure minta tiket diambil pada saat itu juga (jam 12 siang) padahal saya tidak bisa ninggalin kantor buat ambil tiket, si ibu tidak mau tiket diambil malam hari setelah Ihsan sampai Gambir. Dan akhirnya saya minta si Ibu buat ke kantor saya di Gatsu buat antar tiket. Sampai jam 3 sore si ibu belum nongol juga, saya telpon katanya nyasar sampai ke Senayan, padahal saya harus cabut jam 4 sore menuju Gambir, takut jalanan macet karena waktu itu hari Jumat. Dan dengan ngomel-ngomel akhirnya si ibu berhasil menyerahkan tiket jam 4.30 sore. (Fiuh)
Permasalahan selanjutnya adalah : bagaimana cara menyerahkan tiket kereta Ihsan, karena saya berangkat jam 5.45 sore sedangkan doi baru sampai paling cepat di Gambir sekitar jam 8.30 malem *zoom in zoom out*. Beruntung saya punya banyak temen kece yang siap bantu, tiket bisa dititipkan di kantor @ekaotto di kawasan Menteng. Nah! Berarti saya harus ke kantor Eka dulu donk sebelum ke Gambir, alhasil setelah dapat tiket, saya secepat kilat beberes, pamitan sama orang kantor dan langsung suit-suitin tukang ojek yang mangkal depan kantor buat anter gue ke Menteng lanjut ke Gambir.
Tukang ojek tercinta ternyata ahli bener ngebut dan cari jalan tikus, setelah menitipkan tiket ke Eka, saya langsung ke Gambir dan sampai jam 5.15 sore. Sampai Gambir saya sudah ditunggu ayang accu si @yudhowibowo yang juga mau ikut ngetrip ke Karimun mumpung dia masih cuti.
Tak berhenti sampai di situ Saudara-Saudara sekalian! Pas buka HP ternyata ada pesan dari tour guide kami untuk ke Karimun yang memberitahukan bahwa penyebrangan ke Karimun DITUTUP karena faktor cuaca *drop*
Berita itu langsung saya sampaikan ke Yudho dan dengan spontan Yudho memutuskan untuk membatalkan perjalanannya. Tiket seharga IDR 350k pun hangus *puk-puk Yudho*.
Oke, berarti gue harus siap ke Semarang sendiri, di saat yang sama Ihsan kasih kabar kalo pesawat dia delay. (YA TUHAN) Kalau tidak delay saja, Doi landing jam 7.30 malam, lha ini ketambahan delay 30 menit, berarti paling cepat jam 8 malam sampai Soetta, trus menembus kemacetan Jakarta di hari Jumat buat ambil tiket ke Menteng balik lagi ke Gambir karena jadwal kereta jam 9.30 malam. Satu setengah jam kesempatan doi jadi pemain film Taxi (atau Fast 7).
Dan akhirnya doi berhasil sampai di Gambir tepat waktu, gue sampai di Stasiun Tawang Semarang jam 1.30 dini hari sedangkan Ihsan baru sampai jam 4 pagi, kata mas tour guide ke Karjaw, mereka tetap akan berangkat ke Jepara dan mengecek langsung kondisi penyebrangan. Karena kepalang basah ya udah gue sama Ihsan ikut aja ke Jepara.

20130901-081156 PM.jpg

saya dan Monic, terman seperjalanan dari Semarang

Dan berangkatlah kami ke Jepara melalui medan berliku dan sopir bus Semarang-Jepara yang tak hentinya mengangkat telpon selama menyetir, setelah sempat berdesakan dan dioper dengan semena-mena akhirnya kami sampai di Pelabuhan Pantai Kartini Jepara.

20130901-081118 PM.jpg

berbecak menuju pantai

20130901-081258 PM.jpg

menuju pantai

Setelah menunggu seharian, dan tetap penyebrangan ga bisa dilakukan (bahkan kapal ferry harus bersandar) kami memutuskan untuk tinggal di Hotel di Jepara dan menunggu satu hari lagi, mencoba peruntungan terakhir siapa tau bisa menyeberang esok harinya.

20130901-081321 PM.jpg

berharap kapal akan berangkat

Walau akhirnya kami tetap tidak bisa menyebrang karena ombak terlalu tinggi (patah hati) namun bukan alasan untuk ga melanjutkan petualangan.

20130901-081344 PM.jpg

bersandar, namun tak berlayar

Karena hanya bisa berkeliling seputar Jepara hari itu, jadilah kami menangkap “pesona” alam yang bisa didapat di sekitar Pantai Kartini dan Pantai Bandengan Jepara.

20130901-081415 PM.jpg

“wah udangnya besar-besar sekali di sini!” kata Monic

20130901-081455 PM.jpg

walau terlihat tenang, namun ternyata di tengah gelombang air cukup tinggi

20130901-081529 PM.jpg

Yang belum sempat ke Losari, Kartini dulu juga gapapa😀

20130901-081618 PM.jpg

Pantai Bandengan yang mirip pantai di Bali

20130901-081642 PM.jpg

lumayan cantik kan?

20130901-081703 PM.jpg

salah satu resort di Pantai bandengan

20130901-081900 PM.jpg

Senja indah pelipur lara